Infrastruktur dan Produktivitas SDM, Keunggulan Jabar di Mata Investor

oleh:

TEMPO.CO

Jumat, 24 Juli 2020 13:22 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, investor tertarik memilih Jabar untuk berinvestasi karena Jabar memiliki kelebihan di bidang infrastruktur yang mumpuni dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi.

    Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, investor tertarik memilih Jabar untuk berinvestasi karena Jabar memiliki kelebihan di bidang infrastruktur yang mumpuni dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi.

    INFO JABAR- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan, investor tertarik memilih Jabar untuk berinvestasi karena Jabar memiliki kelebihan di bidang infrastruktur yang mumpuni dan produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi.
     
    Teranyar di tengah pandemi Covid-19, perusahaan asal Taiwan, Meiloon Industrial Co, Ltd., resmi merelokasi pabriknya dari China ke Kabupaten Subang dengan nama PT Meiloon Technology Indonesia. Nilai investasi itu mencapai 90 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1,3 triliun.
     
    Selain itu, Pemerintah Daerah Provinsi Jabar melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) terus berkolaborasi dengan DPMPTSP kabupaten/kota dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menjamin proses perizinan yang cepat.
     
    "Keunggulan Jabar, kita selesaikan perizinan dalam waktu kurang dari 30 hari, juga lokasinya sudah matang. Mereka (investor) juga sampaikan kelebihan Jawa Barat yang mungkin sangat kompetitif dibandingkan provinsi lain, yaitu infrastrukturnya paling siap dan produktivitas SDM paling tinggi,” ucap Emil sapaan Ridwan Kamil pada tim Humas Jabar di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis 23 Juli 2020.
     
    Emil berujar, beberapa investor mengaku menyesal sudah memindahkan industrinya ke luar Jabar karena di sana tidak ada keunggulan infrastruktur serta SDM yang tidak se-produktif Jabar. 
     
    “Aspek ini saya dapat kesaksian dari banyak investor. Yang sempat pindah ke provinsi lain ada penyesalan, karena mereka bilang mungkin upahnya lebih murah di provinsi lain, tapi ternyata produktivitasnya jauh lebih tinggi di Jawa Barat,” tutur Emil.
     
    Dirinya menambahkan, jumlah investasi di Jabar dalam kurun satu semester yakni Januari hingga Juni 2020 mencapai Rp57,9 triliun atau 54 persen dari target investasi Jabar di 2020. Jumlah ini pun menjadikan Jabar berada di posisi puncak pendapatan investasi se-Indonesia dalam periode tersebut.
     
    “Dari catatan saya, (investasi semester satu 2020) ada Rp57,9 triliun, itu melebihi 50 persen target kita. Target Jabar itu Rp107 triliun untuk seluruh tahun 2020,” kata Emil.
     
    Untuk memenuhi target investasi tahun ini, Emil mengatakan, pihaknya akan melakukan strategi jemput bola kepada negara-negara, terutama Taiwan, yang ingin memindahkan industrinya dari China ke kawasan Asia Tenggara.
     
    “Pelan-pelan, (yang) hijrah-hijrah dari sana itu akan saya kebut, saya jemput bola (agar) datang ke tanah Jawa Barat,” ujar Emil.
     
    Terakhir, Emil berharap bahwa investasi tidak hanya meningkatkan pendapatan Jabar, tapi juga menjadi peluang penyerapan tenaga kerja sebagai solusi usai banyak warga Jabar yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.(*)