Ridwan Kamil Gandeng Ulama Sosialisasikan Vaksinasi

oleh:

TEMPO.CO

Senin, 22 Februari 2021 13:25 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saat menjadi narasumber web seminar (webinar) INDIKATOR

    Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saat menjadi narasumber web seminar (webinar) INDIKATOR "Rilis Survei Nasional: Siapa Enggan Divaksin? Tantangan dan Problem Vaksinasi COVID-19" via konferensi video dari Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (21/2/2021). (Foto: Rizal/Humas Jabar)

    INFOJABAR-Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan mendorong kerja sama dengan tokoh agama untuk menyosialisasikan vaksinasi Covid-19 di Jabar. Ini berdasarkan survei Nasional Indikator Politik Indonesia yang menyatakan 81,9 persen warga akan menerima vaksin hanya jika halal.

    Sebelumnya Ridwan Kamil menjadi narasumber web seminar (webinar) Indikator "Rilis Survei Nasional: Siapa Enggan Divaksin? Tantangan dan Problem Vaksinasi Covid-19" via konferensi video dari Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu 21 Februari 2021. "Saya akan tingkatkan peran-peran ulama untuk memberikan fatwa-fatwa penguatan terhadap vaksin," ujar Ridwan Kamil berdasarkan rilis resmi tim Humas Jabar.

    Adapun sampel survei Indikator Politik Indonesia --institut riset di Jakarta-- ini dilakukan terhadap 1.200 responden dari seluruh Indonesia yang terdistribusi secara proporsional dan dilakukan selama 1-3 Februari 2021. 

    Profil demografi sampel yakni laki-laki 50,1 persen dan perempuan 49,9 persen, pedesaan 50,5 persen dan perkotaan 49,5 persen. usia 26-40 tahun 37 persen dan 41-55 tahun 25,4 persen. Demografi  berikutnya Islam 87,8 persen dan lainnya 12,2 persen, serta etnis Jawa 41,8 persen, Sunda 15,2 persen, dan Batak 2,8 persen. 

    Temuan lain lewat survei ini yakni 15,8 persen sangat bersedia divaksin, 39,1 persen cukup bersedia divaksin, 32,1 persen kurang bersedia, 8,9 persen sangat tidak bersedia, dan 4,2 persen tidak tahu/tidak jawab. 

    Sebanyak 53,3 persen pun percaya jika vaksin efektif mencegah penularan Covid-19. Temuan lain yakni sebanyak 49,9 persen sangat khawatir terhadap validitas informasi terkait vaksin Covid-19.  Pada kelompok yang bersedia divaksin (54,9 persen), mayoritas tidak bersedia jika harus membayar (70 persen) dan sekitar 23,7 persen bersedia divaksin meski harus membayar. 

    Ridwan Kamil berharap, survei spesifik tersebut dapat membantu Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jabar untuk membuat komunikasi publik yang baik terkait vaksinasi.  Sebagai Gubernur Jabar, dia memiliki prinsip Good Data Good Decision, Bad Data Bad Decision, No Data No Decision.

    Dengan demikian, data menjadi hal yang sangat penting dalam memutuskan sebuah keputusan. "Jadi Jabar akan menggunakan data (survei) ini. Nanti saya akan analisa ke tim saya untuk melakukan simulasi komunikasi publik. Berdasarkan temuan ini akan lebih efektif," katanya.

    Adapun vaksin Covid-19 bagi Indonesia sudah halal dan suci sesuai fatwa MUI dan keamanan dipastikan dengan Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM. Jabar  menargetkan 36,2 juta dari total 50 juta penduduk untuk divaksin agar memunculkan herd immunity atau kekebalan kelompok.

    Menurut Ridwan, tantangan di Jabar adalah infrastruktur atau titik pemberian vaksin. Dengan jumlah penduduk yang tersebar di 27 kabupaten/kota dan 5.312 desa, Jabar hanya memiliki 1.094 puskesmas terlatih program vaksinasi. "Urusan vaksin PR kita masih banyak," katanya.