Berita Duka Kian Marak, Pemprov Jabar Gelar Doa Lintas Agama

oleh:

TEMPO.CO

Rabu, 14 Juli 2021 14:19 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • INFOJABAR-Berita duka kian marak seiring  meningkatnya angka positif Covid-19 yang terjadi saat ini. Doa bersama lintas agama pun digelar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat secara virtual dari Gedung Pakuan Bandung, Selasa 13 Juli 2021.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mmendapatkan banyak kabar duka yang masuk ke dalam ponselnya belakangan ini.   Kejadian ini juga dialami oleh banyak orang termasuk masyarakat Jawa Barat. 

    Karena itu, doa bersama lintas agama ini sangat penting untuk memberikan semangat kembali kepada masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Apalagi saat ini kasus sedang melonjak. 

    "Sehari ada 5-10 berita duka di handphone saya. Saya juga meyakini bahwa di handphone masing-masing berseliweran notifikasi berita duka ada seorang ibu yang meninggal keluarganya, kakak yang meninggalkan adiknya, sahabat saya juga tadi berpulang," ujar Ridwan Kamil berdasarkan rilis resmi tim Humas Jabar. 

    Menurut Ridwan Kamil, situasi ini merupakan kondisi yang luar biasa pahit. Oleh karena itu, sebagai manusia biasa, semua orang membutuhkan kekuatan batin agar usaha dan ikhtiar yang saat ini sedang dilakukan dalam menyelamatkan nyawa diberi kemudahan dan perlindungnan oleh Tuhan YME. 

    Ridwan Kamil juga memohon maaf atas penerapan kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dianggap tidak nyaman bagi beberapa orang. Dengan PPKM Darurat ini diharapkan bisa menekan kasus aktif harian. 

    Terlebih PPKM Darurat menjadi salah satu cara untuk mencegah penularan dengan menurunkan mobilitas. Apalagi saat ini ada varian baru dari virus Covid-19 yang tingkat penyebarannya mencapai 5-10 kali lipat.

    Menurutnya, kunci dari situasi yang buruk ini adalah mengurangi mobilitas. Karena hasil kajiannya semakin tinggi mobilitas maka dalam hitungan hari  rumah sakit-rumah sakit betul-betuk tidak akan menampung lagi pasien. Dengan mengurangi mobilitas mudah-mudahan  bisa mengendalikan.  “Kita tidak ingin melihat Jawa Barat ada jenazah yang tidak terurus yang mungkin terlambat di parkiran, di jalanan," katanya. 

    Ridwan menyadari banyak orang yang terdampak penghasilannya karena  PPKM darurat ini. Namun hal ini harus dilakukan untuk mengurangi potensi penularan dan jatuhnya korban jiwa. 

    "Dan kita tidak ingin ada pasien mengatre jauh dari kelayakan oleh karena itu saya mewakili pemerintah pusat menghaturkan permohonan maaf kepada ketidaknyaman bagi mereka-mereka yang tertahan pencaharian rezekinya atau kegiatan-kegiatan esensialnya," ujarnya. 

    Kondisi rumah sakit di Jawa Barat saat ini sedang tidak baik-baik saja. Angka keterisian rumah sakit di atas batas yang diterapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah sebesar 60 persen. “Pemerintah pusat menaikkan standar kedaruratan 70 persen. Kita sudah 90 persen. Ini dalam kondisi yang harus dintervensi," kata Kang Emil.

    Belum lagi, jumlah masyarakat yang menjalani isolasi mandiri juga cukup banyak. Dari 90.000 jumlah kasus aktif di Jawa Barat, hanya 20.000 yang dirawat di rumah sakit sedangkan sisanya atau lebih dari 80 persen melakukan isolasi mandiri.

    "Oleh karena itu kita kirimkan doa kepada para pasien yang sedang merawat diri di rumah-rumah. Kita haturkan doa kita menembus langit untuk menguatkan hati dan mental kepada perawat tenaga kesehatan yang bergerak menyelamatkan nyawa  manusia," kata Ridwan Kamil.

    Pihaknya juga melakukan beberapa upaya untuk membantu pasien yang menjalani isolasi mandiri dengan menyediakan layanan telekonsultasi dan obat gratis.  Selain itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menjaga ketersediaan oksigen dengan bekerja sama sejumlah pihak di Tanah Air hingga bantuan dari Singapura.

    Selain itu, pemerintah juga terus menggencarkan vaksinasi kepada masyarakat. Sebagian besar pasien Covid-19  yang meninggal di Jabar terdata belum mendapatkan vaksin. Oleh karena itu Ridwan Kamil mengajak kepada pemuka agama untuk mengajak jamaahnya untuk berlomba-lomba divaksin.

    "Pada dasarnya vaksinasi tidak bisa melindungi 100 persen tapi memaksimalkan  perlindungan. Ibarat pakai payung masih kecipratan air hujan tapi tidak basah kuyup," kata Kang Emil. (*)